Cara Kerja Pikiran & Perasaan

26 03 2011

“Apa sih NLP itu….?”

Sebuah pertanyaan standar yang pasti dilontarkan oleh rekan-rekan yang baru mendengar istilah Neuro-Linguistic Programming.  Sementara Anda tentu sudah membaca beberapa artikel saya tentang hal ini di website, berikut ini 3 jawaban sederhana yang saya jadikan pengantar pada “The 1st Indonesian NLP Conference”, 3 April 2010 lalu.

Pertama, saya teringat perkataan Abraham Maslow berikut ini:
If we want to answer the question, how tall can the human species grow, then obviously it is well to pick out the ones who are already tallest and study them.

If we want to know how fast a human being can run, then it is no use to average out the speed of the populations; it is far better to collect Olympic gold medal winners and see how well they can do.

If we want to know the possibilities for spiritual growth, value growth, or moral development in human beings, then I maintain that we can learn by studying the most moral, ethical, or sanity people.

Yes, NLP adalah rasa ingin tahu tentang mengapa seseorang bisa memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Dengan demikian, tanpa perlu melewati fase proses yang panjang, orang lain dapat mereplikasinya dengan lebih cepat.

Maka belajar NLP jelas membuat kita jadi orang yang selalu penasaran. Belajar NLP juga pasti membuat kita jauh dari rasa iri, dengki, ataupun rendah diri.

Kok bisa?

Jelas bisa. Sebab alih-alih kita iri dengan apa yang dimiliki orang lain, kita justru penasaran dengan bagaimana mereka bisa memiliki hal tersebut. Lihat tetangga kaya, jadi penasaran untuk menirunya. Lihat teman pintar, jadi penarasan untuk menirunya. Lihat orang lain selalu bahagia, jadi penasaran untuk menconteknya. Lihat teman pintar mendidik anak, jadi penasaran untuk belajar darinya.

Penasaran, penasaran, penasaran. Mau tahuuuuu aja gitu, bagaimana orang lain bisa sukses, bisa jadi ahli, lalu kita tiru deh.

Kedua, NLP adalah ilmu tentang memahami program dalam diri kita, yang ternyata cara kerjanya adalah neuro-linguistik. Persis seperti namanya.  Karena cara kerja pikiran-perasaan kita neuro-linguistik,  maka cermati dan tandai deh kata-kata atau bahasa-bahasa apa saja yang membuat kita marah, sedih, kesal, senang, semangat, bahagia, dan seterusnya.

Bagaimana cara kerja program marah dalam diri kita? Apa kata-kata pemicunya? Lalu kendalikan.

Bagaimana cara kerja program bahagia kita? Apa kata-kata pemicunya? Lalu munculkan saat kita inginkan.

Dengan demikian, remote pikiran dan perasaan benar-benar berada dalam kendali kita, dan bukan orang lain. Setiap pikiran dan perasaan pun merupakan keputusan kita sendiri.

Ketiga, NLP adalah soal pembiasaaan, alias mindset untuk senantiasa peka terhadap struktur, selain konten. Peserta tentu ingat contoh saya tentang lagu ”Sempurna” asli dari Andra and the Backbone, dan lagu ”Sempurna Jowo” ala entah siapa. Hehehe…

Lirik persis sama, seketika memicu makna—dan hasil—yang berbeda karena struktur menyanyikannya berbeda.

Pun peserta juga pasti ingat dengan 2 gambar Mahatma Gandhi yang saya tampilkan. Pertama berbingkai hitam, yang kedua berbingkai pink.

Maka kemudian kita jadi lebih mudah memahami mengapa sebuah pengalaman yang sama, bisa memiliki makna yang berbeda bagi 2 orang yang berbeda. Pun kita jadi mengerti, mengapa sesuatu yang dulu kita anggap sebagai tragedi, seketika sekarang bisa kita rasa sebagai komedi.

Yes, bukan urusan kejadiannya, melainkan kita sudah membingkai pengalaman tersebut dengan struktur yang berbeda.

Aha, bukankah ini menandakan bahwa kita punya kemampuan untuk menciptakan makna yang kita inginkan? Makna yang memberdayakan diri kita?  Makna yang menumbuhkan pribadi kita?

kejadian adalah takdir,  makna adalah keputusan.  Untungnya, kita berperilaku berdasarkan makna yang kita pilih.

Adalah Pak Wid—begitu beliau biasa disapa—yang dengan begitu proaktif menghubungi panitia menawarkan sebuah paper hasil penelitian sementara beliau tentang pola-pola bahasa dalam literatur Jawa Kuno. Meskipun beliau mengakui bahwa kajian ini baru dimulai, dan memiliki banyak keterbatasan dalam melakukannya, sesi yang berlangsung selama kurang lebih 1 jam di Indonesian NLP Conference 3 April lalu benar-benar menggelitik para peserta yang hadir di kelas beliau.

Menggelitik, karena rupanya banyak di antara peserta—terutama yang pernah belajar sisi linguistik dari NLP—baru menyadari berlimpahnya makna yang dapat dipelajari dari peninggalan budaya Indonesia.  Padahal, sesi tersebut baru membahas secuplik saja poin-poin yang didapat dari “Serat Kaca Wirangi” dan “Serat Madurasa”.

Serat Kaca Wirangi

Naskah yang diteliti bertuliskan tahun 1922 dan merupakan transliterasi dari naskah lama dalam huruf Jawa. Tanpa keterangan pengarang yang jelas, karya ini berisi kisah metafora yang sarat makna.

Kisah diawali dengan percakapan antara 2 tokoh utama, yakni burung Perkutut dan Dekukur pada suatu taman. Keduanya membahas berbagai tokoh seperti kupu-kupu, batu kali, batu mulia, berlian, batu biasa, arang, besi batangan, dan kaca benggala gedhe.

Keunikan serat ini jelas terletak pada gaya metaforik yang digunakan, sehingga menciptakan efek disosiasi yang menghindarkan ketersinggungan pembaca/penerima pesan.  Di dalamnya, para pembaca belajar beberapa hal berikut:

  • Baik atau buruk hanyalah ide, dan sangat tergantung pada perasaan dan makna.
  • Yang sedang disukai akan terlihat baik dan perhatian kita, sedangkan sisanya akan dihapus/diabaikan.
  • Orang simpati tidak kurang memuji, orang benci tidak kurang mencela.
  • Orang yang paling kita cintai di dunia ini adalah diri kita sendiri.

Kesimpulannya, persis seperti yang dikemukakan dalam presuposisi NLP, “People response to their internal maps, not the reality itself”. Dengan bahasa sederhana, manusia memiliki perwatakannya masing-masing.

Lebih dari itu, serat ini rupanya juga menjelaskan konsep berpikir-merasa yang begitu familiar di kalangan NLPers, atau yang sering disebut dengan NLP Communication Model/Human Model of the World. Jika dalam NLP kita belajar bahwa apa yang ada dalam representasi internal manusia merupakan hasil filterisasi dari kenyataan, maka serat ini mengajarkan bahwa rasa yang dimiliki manusia merupakan hasil pemahaman terhadap cahya/pepadhang yang dilihat melalui keluk/asap.

Sementara itu, serat ini juga menerangkan tentang konsep manusia sempurna yang sejalan dengan model Neurological Level yang dikembangkan oleh Robert Dilts. Perkembangan manusia berawal dari fase kupu-kupu yang masih berkutat dengan segala warna. Ini merupakan pengejawantahan dari level environment hingga capability. Berlanjut pada fase batu mulia, yang sudah mulai lepas dari perilaku, namun masih memiliki warna. Ini sejalan dengan level belief/value. Naik lagi menuju fase berlian yang tidak berkarakter/berwarna khusus dan nir nilai (tidak bernilai baik/buruk). Ini sejalan dengan level identity. Dan berujung pada fase kaca benggala, sesuatu yang bisa memuat segala rupa warna (map), cahaya (budi, etika), dan wujud. Ini selaras dengan level spirituality.

Serat Madurasa

Naskah yang diteliti juga merupakan naskah transliterasi dari naskah Jawa, bertahunkan 1935. Berbeda dengan Serat Kaca Wirangi, Serat Madurasa lebih banyak menjelaskan pola-pola olah batin, meskipun sama-sama menggunakan model metafora.

Ajaran inti serat ini adalah ’aja lali marang jejer’, intinya adalah jangan pernah melupakan tujuan dalam hidup. Sementara banyak manusia kosong tanpa sasaran yang jelas, tidak memahami tujuan hidup di dunia, sering beralih keinginan, sehingga mudah terombang-ambing oleh perubahan zaman. Manusia seperti ini membutuhkan outcome setting yang pasti, dan senantiasa waspada terhadap berbagai godaan dalam perjalanan.

Nah, untuk diskusi lebih lanjut, silakan kontak langsung penelitinya, Pak Widyarso, melalui email di widyarso_r@yahoo.co.uk.

Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan





Tips Efektif Mengelola Pikiran & Perasaan

15 03 2011

Hari ini adalah ulang tahun saya. Dua tahun yang lalu pada tanggal yg sama, saya bertanya pada diri sendiri “Pilih mana: pekerjaan sebagai seorang professional (karyawan) yg dibayar tinggi setiap bulannya ATAU menjadi seorang entrepreneur (wirausaha) yg harus menentukan sendiri berapa pendapatan setiap bulannya dan bisa saja tidak menentu?

Pagi ini ketika saya teringat keputusan yg saya ambil dan tekadkan 2 tahun yg lalu, saya bersyukur! Sungguh luar biasa pencapaian yg saya raih hingga hari ini. Ketika itu, orang-orang mengatakan saya sinting, ga waras: “Sudah mau married koq memutuskan berhenti dari pekerjaan, istri mau dikasih makan apa, bagaimana kamu menjamin kehidupan keluarga nantinya?” Orang tua meragukan keputusan saya tersebut. Bahkan calon istri menjadi kuatir dengan pilihan saya tersebut.

Flash back sedikit, keputusan saat itu diambil karena PASSION pada profesi yg saya putuskan utk geluti. Mungkin terdengar lucu tetapi itulah, PASSION dan KOMITMEN yang kuat pada profesi tersebut membuat saya memantapkan pilihan menjadi seorang entrepreneur.

Saya akui tidak mudah ketika berganti profesi dan memang saat itu saya mengalami masa-masa terkelam dalam hidup saya, termasuk biaya pernikahan harus saya cicil 6x.

Tetapi saya belajar bahwa pencapaian luar biasa hingga hari ini adalah karena pengelolaan pikiran dan perasaan yg EFEKTIF dan itulah yg ingin saya sharing-kan. Pengelolaan pikiran dan perasaan yg EFEKTIF membuat saya tetap termotivasi dan berada dalam performa puncak.

TIPS 1: SAYA
Ya, SAYA, bukan KITA, bukan KAMU, bukan ORANG LAIN. Saya yg secara sadar berpikir, saya yg berkata-kata/berucap/memilih kata-kata yg mau saya ucapkan, saya yg melakukan/bertindak, seharusnya sayalah juga yg bertanggung jawab atas hasilnya/pencapaian saya tersebut.

Tetapi seringkali ketika tidak mencapai hasil yg diinginkan, ’saya’ mulai menyalahkan atasan yg kurang perhatian, bawahan yg tidak support, rekan kerja yg cuek, situasi kondisi penetrasi pasar yg sulit, daya beli masyarakat melemah, peraturan pemerintah yg tidak kondusif, kompetitor yg menggurita, de-el-el. Ketika berhadapan dengan klien, pelanggan, nasabah, seringkali kita mendengar: ”Dasar nasabah bawel! Dasar klien yg tidak tahu aturan! Dasar pelanggan tidak tahu diri, maunya menang sendiri! Gara-gara kamu, saya jadi bete! Gara-gara kamu, mood kerja saya jadi jelek seharian ini!”

Lah, kalau begitu, mood saya, bete saya, perasaan saya, diatur oleh pihak eksternal dong?! ”Kan gara-gara mereka, saya tidak capai target! Gara-gara mereka, saya jadi bete!”

Ketika anda mulai tidak in-control atas diri anda, berarti anda perlahan mulai membiarkan pihak lain yg in-control atas diri anda.

Seperti cerita berikut:

Seorang pasien di RSJ yg menganggap dirinya adalah sebutir jagung dan takut utk keluar RSJ karena akan bertemu dengan ayam-ayam yg pasti akan mematuk dan memangsa dirinya.

Tahun demi tahun dilakukan terapi untuk mengembalikan kepercayaan dirinya dan menyadarkan bahwa dirinya adalah seorang manusia.

Tahun pertama, dia masih menganggap dirinya sebagai sebutir jagung dan takut utk keluar RSJ. Tahun kedua, mulai ada kemajuan, walau dia masih menganggap dirinya sebutir jagung, tapi sudah berani utk berjalan-jalan di areal sekitar RSJ. Tahun ketiga, berani keluar areal RSJ dengan ditemani seorang perawat walau masih sangsi apakah dirinya benar-benar seorang manusia. Tahun keempat, dia mulai percaya bahwa dirinya adalah seorang manusia.

Di akhir tahun keempat, dokter yang puas akan kemajuan pasien tersebut, merekomendasikan utk melepaskan pasien tsb dan membiarkannya kembali bersosialisasi dengan masyarakat.

Sebelum menandatangani surat rekomendasi pelepasan, sekali lagi dokter bertanya kepada pasien tsb: “Saudara masih merasa sebagai sebutir jagung atau seorang manusia?” Jawab pasien tsb dengan tegas:  “Saya adalah seorang manusia!” kemudian sambungnya dengan lirih: “Apakah ayam-ayam tsb juga tahu bahwa saya adalah seorang manusia?”

Yang menentukan pasien tsb adalah seorang manusia adalah dirinya sendiri dan bukannya ayam-ayam tsb, ya?!

Ketika saya mengambil tanggung jawab bahwa saya yg memilih akan merespon seperti apa terhadap suatu kejadian, saya sadar bahwa saya in-control. Saya yg memilih apakah saya akan marah ATAU sedih ATAU kecewa ATAU mengumpat ATAU menyalahkan orang lain ATAU mencari 1001 alasan ATAU senang ATAU tertawa dan atau-atau lainnya.

Ketika orang menyalip dan menyerobot, saya bisa memilih utk mengumpat, balas mengejar, ATAU berkata: “Barangkali dia lagi kebelet.” “Pendidikannya memang rendah makanya begitulah cara dia menyetir.” “Mungkin ada sanak saudaranya yg lagi emergency.” De-el-el.

Ketika pelanggan, klien, nasabah komplain dan marah-marah, saya bisa memilih utk membalasnya dengan emosi ATAU mencoba cara/pendekatan yg berbeda ATAU mencari tahu jangan-jangan ada postur, gesture, bahasa tubuh, ucapan yang menantang dan membuat dia marah.

Ketika bangun pagi, saya bisa memilih utk melanjutkan tidur lagi karena ada gambar-gambar, suara-suara, feeling-feeling yg membuat malas dan tidak termotivasi berangkat kerja ATAU mengubah dan memilih ‘channel’, image, suara yg membuat saya bersemangat dan termotivasi utk berangkat kerja.

Saya menyadari bahwa MOTIVASI datangnya dari apa yg saya ISIkan di kepala saya setiap harinya, apa yg saya PUTAR, REWIND, FORWARD, REPLAY, TUMPUK di ‘teater’ kepala saya, apa yg saya DENGAR, AMPLIFY/PERKUAT di ‘teater’ kepala saya. Apa yg saya ISIkan akan mempengaruhi OUTPUTnya. Jadi kalau mau OUTPUTnya POSITIF dan BERMANFAAT, yg saya ISIkan tentunya adalah HAL-HAL yg BERMANFAAT.

Saya yg bertanggung jawab untuk mengisikan hal-hal bermanfaat tsb ke ‘teater’ kepala saya dan itu saya lakukan secara SENGAJA. Ya, secara SENGAJA, karena mood, great feeling, motivasi tidak datang begitu saja. Saya yg harus men-STIMULASI-nya dengan SENGAJA!

Lagu MY HEART WILL GO ON (Celine Dion) dan I FEEL GOOD (James Brown) pasti memberikan efek yg berbeda kepada perasaan Anda, kepada gambar/image yg timbul di benak Anda, ya?!

Sinetron percintaan, cerita ibu tiri yg kejam, film horor, serial kriminal pasti akan memberikan efek yg berbeda dibanding Anda menonton acara motivatalk atau komedi humor.

Kalau begitu Anda tahu sekarang, bahwa Andalah yg bertanggung jawab utk mengisikan hal-hal yg bermanfaat utk mendapatkan output yg bermanfaat pula! Bukan SAYA, KITA, ataupun ORANG LAIN!

Dalam konteks cerita saya, ketika saya down, yg saya katakan adalah: “Bukankah ini adalah sesuatu yg kamu sukai, PASSION kamu. Kalau kamu menyukainya, kenapa kamu down?” Image yg saya munculkan adalah wajah audience yg tersenyum puas dan mengangguk-angguk serta acungan dua jempol. Audio yg saya munculkan adalah tepuk tangan meriah audience dan kata-kata: “Luar biasa sekali Pak! Menginspirasi sekali! WOW!”

Bandingkan dengan image yang saya munculkan adalah bahwa peserta pelatihan akan ‘sulit’, tidak mau mendengarkan, tidak kooperatif, merasa ‘sok pintar’, suara-suara yang terdengar adalah nada ketidakpuasan, sibuk mengobrol sendiri, dering HP, de-el-el.

Kalau image tsb yg Anda munculkan, bagaimana pikiran dan perasaan Anda? Apa yg muncul di benak Anda? Apa yg Anda dengar? Apa yg Anda rasakan? BEDA, ya?!

TIPS 2: FLEKSIBEL
Ketika saya mengajukan pertanyaan di seminar/workshop, apakah FLEKSIBEL itu, kebanyakan peserta menjawab: ”Tidak kaku”, ”Lentur”, ”Menyesuaikan dengan sikon”, ”Mudah beradaptasi”. Kemudian saya lanjutkan ”Kalau tidak mencapai target berarti fleksibel juga dong? Kan itu berarti tidak kaku dengan tujuan yg mau dicapai. Itu berarti menyesuaikan dengan sikon: krisis, daya beli rendah, kompetitor yg ganas, de-el-el”. J

FLEKSIBEL bukan berarti menyesuaikan target/goal dengan kemampuan. Ini yg umumnya terjadi. Penentuan target/goal menyesuaikan dengan kemampuan, keahlian, wawasan, pengetahuan, keterampilan yg ada. Pasti saja target/goal-nya tidak akan tinggi alias menyesuaikan dengan perkembangan kemampuan tsb. Bagaimana kalau kemampuannya tidak pernah berkembang, apakah target/goal juga tidak akan berkembang, padahal yg namanya manusia keinginannya selalu bertambah (tidak pernah puas). Nah, tidak matching, ya?!

FLEKSIBEL di sini maksudnya adalah menyesuaikan kemampuan dengan target/goal yg mau dicapai. Kita yg terus meng-upgrade diri sehingga pelan-pelan kemampuan, wawasan, keterampilan, keahlian kita mendekati bahkan melampaui target/goal yg telah kita set. Termasuk kalau mempunyai keyakinan yg tidak mendukung pencapaian sasaran maka keyakinan tsb harus Anda ganti! Contoh: keyakinan bahwa karena kutukan nenek moyang maka hidup saya selamanya pasti susah karena dirunut 7 turunan semuanya adalah Office Boy. Nah, kalau keyakinan ini tidak membantu pencapaian sasaran maka hilangkan belief tsb dan install dengan belief yg lebih bermanfaat.

FLEKSIBEL berarti merubah gerak, bahasa tubuh, postur, cara bicara, sikap, ketika semua itu tidak cocok utk menghadapi tipe klien/pelanggan/nasabah tertentu. Cari pendekatan lain sehingga bisa ’masuk’ dan membangun RAPPORT (hubungan keakraban) dengan klien/pelanggan/nasabah tsb. FLEKSIBEL dapat Anda gunakan utk pendekatan terhadap atasan, rekan kerja (colleague, peer), bawahan, pasangan, kehidupan sosial, dlsbnya.

FLEKSIBEL berarti menganggap bahwa kegagalan adalah sebuah hadiah yg memberitahukan utk merubah FOKUS, DISTORSI, dan GENERALISASI kita.

FLEKSIBEL tidak sama dengan PLIN PLAN karena PLIN PLAN berarti merubah target/goal ketika sebuah cara/teknik/prinsip tidak berhasil.

Dalam konteks saya, saya belajar utk FLEKSIBEL dalam menghadapi tipe audience mengingat mereka adalah pribadi yang unik dan berbeda. Preferensi VISUAL berbeda dengan AUDITORI dan mereka yg KINESTETIK sehingga memerlukan pendekatan yg sesuai utk masing-masing tipe tsb. Termasuk FLEKSIBEL ketika alat bantu (laptop, LCD projector, speaker, dlsbnya) tidak berfungsi dengan baik dan the show still must go on!

Saya mendistorsikan bahwa kegagalan adalah feedback bagi saya untuk mengubah/ menyesuaikan/ memperbaiki CARA untuk men-deliver sebuah materi dan tidak menganggap bahwa audience adalah tipe sulit. Bukankah semakin Anda bisa mengatasi audience/klien/konsumen/pelanggan/nasabah yg sulit, itu menunjukkan kualitas Anda sebagai seorang professional? Bahwa, ibarat seorang petinju, Anda berada di kelas ’berat’ dan pastinya hantaman-hantaman yg Anda peroleh adalah kualitas kelas ’berat’!

TIPS 3: RAPPORT
Rapport berarti membangun hubungan. Membangun hubungan (keakraban) dengan siapa? Dengan orang-orang yg bisa membantu pencapaian sasaran Anda. Bukan berarti pilih-pilih teman tetapi lebih kepada menghabiskan porsi terbanyak waktu Anda dengan orang-orang yg bisa membantu dan mendukung pencapaian sasaran Anda.

Orang cenderung berkelompok dengan mereka yg sejenis. Orang yg suka gosip suka berkelompok dengan sesama penggosip, yg suka komplain berkumpul dengan sesama komplainers, pedagang berkumpul dengan sesama pedagang, orang sukses berkumpul dengan sesama orang sukses, pemberani dengan sesama pemberani, dlsbnya.

Sehingga salah satu cara tercepat utk memotivasi diri Anda, berkumpullah atau bergabunglah dengan mereka yg sukses, berpikiran positif, memiliki visi, menyukai tantangan, percaya diri, atau yg sudah ’proven’ (terbukti) berhasil yg dapat mengajarkan kepada Anda CARA-nya.

Kabar baiknya adalah bahwa hampir semua masalah di dunia ini sudah pernah dialami oleh orang lain dan sudah ada solusinya sehingga yang perlu Anda lakukan adalah mencari mereka yg sudah terbukti ’proven’ utk mengajarkan Anda CARA yang lebih CEPAT dan EFEKTIF dalam mencapai target/goal Anda.

Manusiawi sekali bahwa orang tidak suka (iri) dengan mereka yg lebih sukses, berhasil, maju dibanding dirinya. Seringkali mereka mencibir dan mengatakan bahwa orang lain bisa seperti itu karena KKN, nasib (sudah dari sononya), kutukan nenek moyang, fengshui, orang tuanya, warisannya, dlsbnya. Mengapa begitu? Karena mereka harus ’OOO’ besar alias menganga lebar dan bahkan merasa tidak nyaman ketika orang lain memberitahukan dan mengajarkan CARA yg lebih CEPAT dan EFEKTIF. Mereka merasa seperti orang bodoh, bahkan minder dan tidak percaya diri. Mereka merasa sudah nyaman berada di posisi/jabatan/karir yg sekarang. Tetapi bukankah itu adalah harga yg harus dibayar kalau ingin MAJU: merasa TIDAK NYAMAN utk sementara?!

Bangunlah dan jalinlah hubungan yg EKOLOGIS dengan siapa saja dan terutama dengan mereka yg bisa membantu Anda lebih cepat dalam pencapaian target/goal Anda! Mereka sudah lebih dulu menjalaninya dan menemukan SOLUSInya dibanding Anda. Mereka ada di sana utk membantu Anda menjadi SUKSES juga!

Dalam konteks saya, sebagai seorang professional speaker dan trainer, saya langsung mencari dan belajar dari speaker dan trainer yg paling TOP di bidangnya. Tidak mudah karena Anda harus menemukan chemistry. Bahkan Anda harus mempunyai modal karena mereka tidak akan membagikan ilmu mereka dengan percuma. Tetapi bukankan itu adalah harga yg harus dibayar kalau Anda mau lebih CEPAT dan EFEKTIF dalam pencapaian sasaran Anda?!

Saya menggeneralisasi bahwa kami sama-sama manusia, sama-sama makan nasi, kalau dia BISA, saya juga seharusnya BISA sehingga yg saya lakukan adalah berlatih dan berusaha LEBIH SERING, LEBIH BANYAK, LEBIH KUAT, LEBIH CEPAT!

TIPS 4: FOKUS
Ketika Anda belum berhasil mencapai apa yg Anda inginkan maka mungkin Anda perlu merubah FOKUS Anda. Ketika Anda FOKUS pada suatu hal maka Anda cenderung mengabaikan hal yg lain. Ketika Anda FOKUS pada PERASAAN, biasanya Anda mengabaikan LOGIKA, ya?! Demikian pula sebaliknya ketika FOKUS pada LOGIKA, biasanya Anda cenderung mengabaikan PERASAAN. FOKUS yg berbeda akan memberikan hasil yg berbeda pula.

Sebuah kisah TOM & JERRY:

Pada suatu hari TOM dan teman kucingnya pergi berjalan-jalan dan kebetulan melewati rumah yang di halamannya terdapat kandang si anjing SPIKE. TOM melihat di halaman rumah tsb terpancang papan dengan tulisan “BEWARE DOG”. Apa yg terjadi? Pasti saja TOM tidak berani mendekat apalagi masuk ke halaman rumah tsb.

Sementara teman kucing si TOM melihat hal yg berbeda. Dia melihat keset kaki dengan tulisan WELCOME. Tebak, apa yg terjadi? Dia berani mendekat dan bahkan mau masuk ke halaman rumah tsb.

Apa yg membedakan antara apa yg dilihat TOM dan teman kucingnya? YES, FOKUS-nya!

FOKUS pada kebaikan atasan, rekan kerja, bawahan, perusahaan, organisasi, pasangan akan memberikan dampak yg berbeda pada pikiran dan perasaan Anda dibanding kalau Anda FOKUS pada kelemahan, kekurangan, kejelekan, dlsbnya.

FOKUS yg kuat pada outcome akan memberikan dampak yg berbeda pada pikiran dan perasaan Anda dibanding kalau FOKUS Anda bercabang atau FOKUS pada hal lain yg tidak mendukung pencapaian outcome Anda.

Ketika Anda FOKUS dan mengatakan pekerjaan adalah sebuah masalah maka itu akan menjadi masalah yg menyebabkan Anda tenggelam di dalamnya. Ketika Anda FOKUS pada pekerjaan sebagai tantangan maka jadilah itu sebuah tantangan yg mengairahkan utk Anda atasi.

Apa yg Anda FOKUSkan akan menentukan apa yg akan Anda lihat, dengar, dan alami. Kalau ternyata FOKUS Anda selama ini tidak membawa Anda ke hasil yg Anda inginkan, Anda bisa mempertimbangkan utk merubah FOKUS (sudut pandang) Anda. Mungkin ketika Anda melihat dari sudut pandang yg berbeda, Anda akan bisa mencapai apa yg Anda inginkan dengan LEBIH CEPAT dan EFEKTIF.

Dalam konteks saya, saya FOKUS pada usaha dan perbaikan usaha utk mencapai outcome saya sebagai seorang professional speaker dan FOKUS memodel orang-orang TOP dan TERBAIK di industri pelatihan ini. Ketika saya FOKUS pada hal-hal tsb, saya menjadi optimis dan percaya diri pasti akan berhasil dan sukses di industri ini karena saya belajar dan memodel dari yg TERBAIK. Saya mengabaikan hal-hal lain (gambar, suara, perasaan) yg menjauhkan saya dari pencapaian impian saya.

TIPS 5: DISTORSI
Ketika Anda belum berhasil mencapai apa yg Anda inginkan maka mungkin Anda perlu merubah DISTORSI Anda. DISTORSI berarti memaknakan sesuatu secara bebas sesuai konteks.

Contoh:

  1. Seorang anak yg rewel dapat dimaknakan sebagai anak yg cerewet, nakal, keras kepala atau dapat dimaknakan bahwa anak tsb sedang bertumbuh kecerdasan/ kreatifitasnya.
  2. Seorang karyawan yg ditugaskan ke pelosok terpencil utk membuka cabang dapat mengartikan bahwa dia tidak disukai atasan, menjadi kambing hitam, selalu kena sial, dlsbnya atau dia dapat memaknakan bahwa ini adalah tantangan atau kesempatan utk berprestasi lebih tinggi sehingga setelah berhasil di daerah maka dia kemungkinan besar mendapat promosi di kantor pusat.

Distorsi yg berbeda akan memberikan hasil yg berbeda pula. Ketika seorang anak dimaknakan cerewet, nakal, bandel maka dia akan tumbuh sesuai dengan apa yg dicap pada dirinya. Sebaliknya ketika diartikan sedang bertumbuh kecerdasannya maka perlakuan orang tua juga akan berbeda, ya?! Orang tua akan merespon dan meluangkan waktu utk membimbing dengan lebih bijak dan sabar.

Karyawan yg memaknakan bahwa dirinya adalah korban dan tidak disukai atasan pasti tidak akan bekerja sungguh-sungguh dibanding yg memaknakan bahwa penugasan ke pelosok tsb adalah sebuah kesempatan sehingga dia akan berusaha sepenuh hati utk berprestasi.

Saya mendistorsikan bahwa komplain, feedback, pertanyaan, penilaian dari audience selama ini adalah sebuah pembelajaran penting yg sangat membantu dalam pencapaian outcome saya sebagai seorang professional speaker. Saya bisa saja memaknakan komplain, feedback, pertanyaan, penilaian sebagai hambatan/masalah yg menghadang dan membuat saya stres, pesimis, kurang percaya diri tetapi saya sadar bahwa itu tidak bermanfaat dan tidak membantu dalam pencapaian outcome saya.

Kalau sesuatu itu tidak bermanfaat, distorsikan saja maknanya sehingga dapat membantu pencapaian tujuan/goal dengan lebih CEPAT dan EFEKTIF.

TIPS 6: GENERALISASI
Ketika Anda belum berhasil mencapai apa yg Anda inginkan maka mungkin Anda perlu merubah GENERALISASI Anda. Manusia suka menggeneralisasi utk menyederhanakan atau membuat kesimpulan dengan mudah.

Pengalaman seorang teman wanita yg mengalami masalah dalam hubungannya dengan pria sebanyak 3x (diputus, dipermainkan) lalu dengan mudahnya dia menggeneralisasi bahwa semua pria, termasuk teman baiknya ini (yaitu: saya), adalah ’buaya darat’ berdasarkan pengalaman 3x nya tersebut.

Seorang klien yg ditipu oleh tenaga penjual beberapa kali (delivery tdk sesuai kontrak, janji yg meleset, ’cuci tangan’, spesifikasi tdk sesuai, dlsbnya) kemudian menggeneralisasi bahwa semua tenaga penjual adalah tukang tipu.

Oknum PNS yg ’nakal’, melakukan pungli, KKN, berprinsip ’pelayanan cepat asal ada tip’, dlsbnya kemudian digeneralisasi dan disamaratakan oleh masyarakat sebagai cap utk semua PNS.

Generalisasi tsb di atas semuanya kurang bermanfaat kalau tidak mendukung pencapaian sasaran. Wanita tsb akan bersikap dingin kepada semua pria. Klien di atas akan acuh dan curiga terhadap semua tenaga penjual. Masyarakat akan bersikap antipati terhadap semua kebijakan pemerintah.

Sebaliknya kalau wanita di atas mengubah generalisasinya bahwa: ”Semua manusia pasti ada jodohnya”, ”Manusia diciptakan berpasangan”, ”Tuhan sudah menciptakan pria yg sesuai utk saya di luar sana. Yang perlu saya lakukan adalah lebih berhati-hati selanjutnya!”

Kira-kira di dalam konteks mendapatkan pasangan lagi, generalisasi mana yg lebih bermanfaat untuk si wanita? TEPAT, yg kedua, ya!

Untuk konteks saya, saya menggeneralisasi bahwa: Jika dia BISA, saya juga pasti BISA. Saya hanya perlu melakukannya LEBIH SERING, LEBIH BANYAK, LEBIH KUAT, LEBIH CEPAT, LEBIH GIAT!

Masih ingat sharing saya di awal tentang masa-masa terkelam dalam hidup saya, termasuk biaya pernikahan harus saya cicil 6x? Saya menggeneralisasi bahwa hidup itu seperti roda berputar: Suatu saat saya pasti akan berada di PUNCAK! Dan ketika berada di PUNCAK, saya akan terus meng-upgrade diri sehingga selalu lebih siap dan lebih bijak menghadapi apapun.

KESIMPULAN:

  1. Apa yg Anda ISIkan atau INPUT (gambar, video, suara, musik) di ’teater’ kepala Anda akan menentukan OUTPUTnya seperti apa! Pikiran dan perasaan Anda dipengaruhi oleh apa yg Anda INPUT atau ISIkan!
  2. Kalau Anda belum mencapai apa yg Anda inginkan saat ini, saatnya Anda mengganti FOKUS, DISTORSI, dan GENERALISASI Anda!
  3. Anda mempunyai PILIHAN untuk mengisikan hal-hal yg bermanfaat dan mendukung pencapaian outcome atau sebaliknya. Anda yg bertanggung jawab!
  4. Untuk mencapai outcome tsb harus FLEKSIBEL CARAnya yaitu menyesuaikan kemampuan dengan target/goal.
  5. Bangunlah jaringan dan relasi yg EKOLOGI dengan sebanyak mungkin pihak dan FOKUS dengan/kepada mereka yg bisa membantu Anda dalam pencapaian sasaran.

6. TEORI SAJA TIDAK CUKUP PREN, PRAKTEKKK!!! PRAKTEKKK!!! PRAKTEKKK!!!

by. Putera Lengkong








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.