Istilah Dalam NLP – 1

3 03 2011

Banyak istilah-istilah dalam NLP yang agak sulit diterjemahkan tanpa mengikutsertakan bahasa aslinya. Pemahaman terhadap istilah-istilah tersebut akan sangat membantu praktisi dalam menggunakannya sebagai metode dan teknik di banyak bidang, mis: terapi, kepemimpinan, komunikasi efektif dan lain sebagainya.

Motivation
Adalah suatu dorongan dari dalam diri atau rangsangan; yang lebih tepatnya adalah suatu Hasrat Hati dari suatu keinginan yang diinginkan dalam Conscious Mind-nya.

Dalam Ilmu NLP dikenal berbagai cara bagaimana seseorang mempunyai impian yang akan dicapainya, yaitu dengan cara bagaimana seseorang mempunyai Motivation untuk meraih apa yang diinginkan itu.

Melalui proses melatih Sense of Self agar menjadi Personal Mastery yang menghasilkan Personal Power (Goal-nya = mempersiapkan Diri mengapai Impiannya).

Setelah Siap Diri (Goal) nya tercapai maka orang itu membuat Outcome-nya (impian) diciptakannya Strategic Thinking Skills lengkap dengan Systemic Thinking Skills menuju Relationtional Skills.

Lalu dibuatlah Mental Block agar seseorang dapat memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang menghalangi misi menuju impiannya dengan T.O.T.E.

Setelah yakin akan Mental Block yang dapat diatasinya, maka kepastian menggapai impiannya sudah tentu pasti terwujud.

Umumnya orang mengartikan Motivation adalah sebagai suatu bentuk usaha untuk mendorong orang agar mau maju dalam mengapai impiannya dengan paksaan melalui kata-kata, “Harus begini…”, “Sebenarnya begini…”, “Begini, lho caranya…”; yang mana menjadi seperti isapan jempol belaka bahwa teori tidak sama dengan hasil prakteknya.

Limiting Belief
Tiga area yang paling umum dalam limiting beliefs /kepercayaan yang membatasi berpusat di seputar hopelessness, helplessness dan worthlessness. Tiga area belief /kepercayaan ini dapat memancarkan pengaruh yang sangat besar terhadap kesehatan mental dan kesehatan fisik seseorang.

Demi mencapai keberhasilan, seseorang perlu berpindah dari limiting beliefs di atas ke belief yang melibatkan harapan akan masa depan, perasaan berkemampuan (memiliki kemampuan) dan rasa tanggungjawab, dan perasaan bahwa dirinya berharga dan rasa ikut memiliki.

Jelaslah, beliefs yang paling mendalam adalah beliefs mengenai identitas kita. Beberapa contoh dari limiting belief mengenai identitas adalah: “Saya payah/tak berharga/adalah korban” “Saya tidak pantas sukses.” “Kalau saya mendapatkan sesuatu yang saya inginkan, pasti saya akan kehilangan sesuatu nantinya” “Saya tidak diijinkan menjadi sukses”

Limiting beliefs seringkali bekerja seperti sebuah “virus pikiran” dengan kemampuan merusak yang sama dengan sebuah virus komputer atau virus biologis. Sebuah “virus pikiran” adalah sebuah limiting belief yang bakal menjadi ”ramalan yang digenapi sendiri” dan menghalangi usaha dan kemampuan seseorang untuk sembuh atau memperbaiki diri. Virus-virus pikiran berisikan dugaan-dugaan yang tak terucap dan prasangka-prasangka yang membuat mereka sulit dikenali dan dibasmi.

Limiting beliefs dan virus-virus pikiran seringkali muncul bagaikan jalan buntu yang tak teratasi dalam proses perubahan. Pada jalan buntu seperti itu, seseorang akan merasa,”Saya sudah coba melakukan segalanya untuk mengubah ini dan tak ada satupun yang berhasil” Mengatasi jalan buntu secara efektif melibatkan penemuan inti limiting belief tsb, dan menahannya supaya tetap di tempat.

Kinestetik
Kinestetik adalah sebuah istilah yang dipakai di NLP untuk menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan perasaan dan sensasi tubuh. Sistem representasi kinestetik dianggap sebagai satu dari tiga dasar modalitas yang digunakan untuk membangun model-model dari dunia kita.

Dalam NLP, istilah kinestetik digunakan untuk melingkupi semua jenis dari perasaan termasuk di dalamnya perasaan sentuhan, sensasi oleh rangsangan dan perasaan dari dalam.

Orang-orang yang dasarnya berorientasi kinestetik membutuhkan gerakan dan sentuhan dalam belajar dan memahami sesuatu. Mereka belajar dengan melakukan dan berinteraksi secara fisik dengan dunia di sekelilingnya. Pembelajar-pembelajar kinestetik akan mengalami kesulitan dalam sekolah yang memiliki pengaturan tradisional karena metode standar pendidikan meletakan penekanan terbesar pada system reprentasi secara visual dan verbal. Mereka biasanya menjadi atlit dan penari yang luar biasa dikarenakan oleh kesensitifan mereka terhadap tubuh dan perasaan mereka.

Orang dengan sistem representasi kinestetik dapat terlihat tidak stabil, tidak rasional dan sensitif berlebihan bagi orang yang lebih terorientasi secara verbal dan visual.

Para individu yang memiliki sensitivitas kinestetik yang kurang berkembang dapat terlihat tak dapat menyatu dengan lingkungannya dan aneh. Mereka seringkali dikenal sebagai “dingin” oleh orang yang lebih terorientasi secara kinestetik.

Kurangnya keterhubungan dengan sistem kinestetik dapat juga membawa pada kepasifan. Seseorang yang sangat visual tapi memiliki derajat sensibilitas kinestetik yang rendah, misalnya, akan cenderung menjadi ‘’pemimpi’’ atau seorang ‘’pengamat’’. Orang yang sangat verbal tapi kurang terhubung dengan sistem kinestetik mereka akan cenderung menjadi sangat rasional, tapi dapat juga menjadi abstrak dan tidak sensitif, seperti robot atau komputer.

Seseorang yang pengalaman kisnestetiknya tidak tersentuh secara mendalam cenderung akan menjadi “tidak membumi.” Sistem representasi kinestetik sepertinya menjadi hal inti di dalam tujuannya membuat keputusan yang baik dan pemberian penilaian yang mempertimbangkan lingkungan sekelilingnya (ekologis).

Pada faktanya, yang mungkin mengejutkan bagi sebagian orang, ahli filsafat Aristotle berkeyakinan bahwa perkembangan derajat yang lebih tinggi terhadap indera kinestetik dari umat manusialah yang membedakan mereka dari binatang.

Judgement
Jika kita berbicara tentang Judgment atau Penghakiman maka kita juga berbicara tentang Meta Model. Judgment berhubungan erat dengan kategori linguistik dari “lost performative.” Kategori Meta Model dari lost performative kadangkala dianggap sebagai “kata-kata penghakiman” karena mereka mengimplikasikan bahwa sebagian bentuk dari penghakiman telah dibuat, tapi kriteria dan proses untuk menampilkan evaluasi telah dihapus atau “hilang.”

Lost Performative itu sendiri adalah sebuah kategori Meta Model yang terbentuk dari kata-kata yang mewakili penghakiman-penghakiman dan evaluasi-evaluasi. Lost performative berhubungan dengan pernyataan seperti, “Itu gila,” “Ini buruk,” “Kamu menolak.” Pada pernyataan-pernyataan ini pembicara melakukan sebuah penghakiman, tetapi mengabaikan siapa yang membuat evaluasi dan kriteria yang dipakai untuk hal itu.

Apa yang “lost/hilang” dalam lost performative adalah orang dan kriteria yang “performed/muncul” dari evaluasi yang menghasilkan penghakiman. Kita dapat mencegah lost performative dengan bertanya,”Siapa yang mengatakan itu gila, buruk atau menolak?” dan “Gila menurut siapa dan kriterianya apa?” Beberapa respon lain terhadap penilaian dapat seperti “Gila dibandingkan dengan apa?” atau,”Bagaimana kamu tahu ini gila?” atau, “Apakah Anda gila jika Anda melakukan itu?”

Internal State
Internal state seseorang memiliki hubungan dengan pengalaman psikologi dan emosional yang dialaminya pada suatu waktu tertentu. Internal state sedikit banyak memberi pengaruh dalam membuat keputusan terhadap pilihan-pilihan dari prilaku dan respon kita.

Fungsi internal state sama seperti halnya sejenis mekanisme penyaringan dari persepsi-persepsi kita dan pintu gerbang bagi sejumlah memori dan kemampuan. Internal state juga memberikan feedback atau umpan balik tentang bagaimana rangsangan dan situasi-situasi mempengaruhi kita.

Sejumlah ketrampilan dasar dan proses dari NLP telah dipersembahkan untuk mengarahkan dan mengatur internal state diri kita dan orang lain. NLP memandang kemampuan untuk mengatur internal state seseorang sebagai sebuah tanda dari kedua hal yaitu kematangan diri dan menjadi tuan atas dirinya sendiri.

Habits
Habits atau kebiasaan merupakan sebuah contoh klasik dari sebuah “neurolinguistic program.” Kebiasaan dalam berbicara dan berprilaku telah ada atau “terinstall” dengan menciptakan atau memperkuat jejak neurological tertentu yang mampu berfungsi tanpa membutuhkan perhatian sadar kita (seperti seorang aktor yang menghafalkan dialognya dalam “hati” dengan cara mengulang-ulanginya).

Kebiasaan menjadi masalah ketika kita ingin mengubahnya, dan mendapati bahwa kita perlu berjuang untuk mengambilalih “kendali” kesadaran atas tingkah laku kita. Kebiasaan yang tidak diinginkan misalnya muncul secara independen dari keinginan dan perhatian kita, dan adalah suatu tantangan yang tak mudah untuk mengubahnya.

by. http://nlpintoaction.com


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: