Istilah Dalam NLP – 2

3 03 2011

Gustatory
Salah satu dari sumber daya manusia adalah kemampuan untuk mengecap. Dalam NLP dikenal dengan istilah gustatory. Sensasi gustatory ini berhubungan sangat erat dengan kinestetik dan olfactory. Banyak rasa dan sensasi gustatory merupakan hasil perpaduan dari bau dan perasaan atas makanan, berikut rasa dari makanan itu sendiri.

Sepanjang proses mengunyah dan menelan, bau-bauan dari sisi mulut bersentuhan dengan sensor penerima olfactory, mendatangkan banyak sensasi rasa yang biasanya dihubungkan orang dengan rasa makanan, tapi sesungguhnya hampir sepenuhnya bergantung pada indera pembau.

Bila hidung ditutup ketika makanan sedang ditelan, aliran udara bebas menuju sensor penerima olfactory menjadi tertahan, sebagai hasilnya adalah penurunan atau penghilangan persepsi rasa makanan. Seseorang yang sedang flu dan matanya ditutup, misalnya akan kesulitan dalam membedakan antara jeruk mandarin dengan jeruk sunkist.

Hubungan antara rasa dan aroma sangat dekat, faktanya pengagas awal NLP Bandler dan Grinder mengkombinasi sistem gustatory dan olfactory menjadi satu sistem perwakilan sumber daya manusia dalam “four-tuple.”

Rasa adalah sebuah saluran input yang istimewa, dilengkapi dengan karakteristik submodalitasnya sendiri. Submodlitas gustatory mencakup manis, asam, pahit dan asin. Ada juga yang disebut dengan “predikat gustatory” yaitu kata-kata yang mengacu secara spesifik pada rasa dan kwalitas rasanya. Meskipun demikian, dalam bahasa Inggris kecuali ketika digunakan untuk membuat penjelasan tentang makanan secara spesifik acuan pada “predikat gustatory” adalah dasarnya bersifat metafora, lebih mengindikasikan respon emosional daripada proses kognisi. Contohnya ungkapan seperti : “Dunia ini sungguh pahit di mulutku” memanfaatkan rasa secara lebih puitis atau perlambangan daripada makna sebenarnya. Contoh lainnya dari pribahasa berbasis gustatory : Manisnya kesuksesan, Kekalahan yang pahit, Mukanya sungguh masam.

Feedback
Feedback mengacu kepada proses yang mana merupakan hasil dari sebuah mesin, organisme atau sistem yang tidak sesuai – dikembalikan – sebagai input untuk memandu kepada hasil atau perilaku yang diharapkan. Bagian yang “dikembalikan” dari sebagian hasil proses tersebut disebut feedback.

Bagian yang “dikembalikan” tersebut dapat masuk kembali sebagai input baru untuk diproses lagi ke dalam sistem sampai menemukan hasil yang diharapkan.

Ketika sinyal feedback menguatkan sebuah trend sistem, ini dapat dikatakan “positif.” Ketika hal yang sebaliknya terjadi, ini disebut “negatif.” Feedback “positif” dibutuhkan bagian-bagian dari sebuah sistem untuk tumbuh atau peningkatan yang dapat diukur. Feedback “negatif” dibutuhkan untuk menyeimbangankan atau menstabilkan bagian-bagian dari sebuah sistem yang sibuk.

Baik feedback positif dan negatif dibutuhkan untuk pertumbuhan dan bekerjanya sistem apa saja, baik secara biologi ataupun mekanik secara efektif. Feedback, lebih jauh lagi merupakan bagian penting pada semua keahlian di dalam pembelajaran dan bagaimana memprakteknya kelak. Jadi Feedback itu berhubungan erat dengan proses belajar.

Jika feedback itu begitu penting, pertanyaannya adalah mengapa orang tidak senang diberikan feedback? Jawabannya adalah orang pun perlu belajar : KAPAN waktu yang tepat untuk memberikan feeback, BAGAIMANA memberikan feedback, dan SEBERAPA SERING feedback itu diberikan.

Environment
Secara neurologi, persepsi kita terhadap lingkungan berhubungan dengan informasi yang datang dari organ indera dan perangkat sistem saraf kita. Sebagian lingkungan dapat berupa jenis kamar, kondisi cuaca, makanan, tingkat kebisingan, dll., yang mengelilingi seseorang atau sekelompok orang.

Rangsangan dari luar seperti ini akan berpengaruh terhadap respon dan keadaan seseorang serta anggota -anggota dalam kelompok, dan perlu disadari juga bahwa hal ini merupakan bagian dari proses yang berorientasi pada tujuan. Jadi, faktor-faktor lingkungan menunjukan apa yang “diberikan” oleh eksternal, atau kekuatan dimana kita harus bereaksi. Lingkungan mengelilingi sensasi dan reaksi spontan serta berhubungan pada kata “di mana” dan “kapan” dari pengalaman kita.

Dalam teori keputusan, variabel lingkungan mengandung semua dimensi dari sebuah “celah permasalahan”, yang mana dianggap berada di luar kendali dari pelaku atau sang pemegang keputusan. Contoh klasik dari variabel lingkungan adalah cuaca. Ini adalah sesuatu yang tidak dapat secara langsung kita kendalikan dan mau tidak mau harus beradaptasi dengannya. Pilihan kita terhadap baju, juga adalah sebuah variabel keputusan yang berhubungan dengan reaksi tingkah laku kita terhadap variabel-variabel lingkungan yang khusus, seperti cuaca tadi. Agar berhasil mencapai tujuan tetap hangat dan kering ketika kita keluar rumah, kita harus memperhitungkan keduanya, variabel lingkungan dan variabel keputusan.

Distorsi
Distorsi merupakan sebuah proses yang memungkinkan seorang manusia untuk menciptakan atau mengubah informasi yang ditangkap melalui inderanya untuk disesuaikan dengan apa yang menjadi sudut pandangnya. Kemungkinan dari proses ini akan membawa manfaat atau tidaknya, tergantung pada bagaimana hal ini diterapkan dalam kesehariannya.

Misalnya, kemampuan membayangkan kemungkinan yang dapat timbul dari sebuah situasi dan langkah-langkah mengatasinya, atau merubah informasi yang ditangkap melalui indera menjadi sebuah karya seni.

Atau contoh yang cukup berbeda adalah bagaimana seorang suami yang mendistorsi sebuah ekspresi isterinya lalu menyesuaikan dengan keyakinannya bahwa isterinya pasti membutuhkan sesuatu. Padahal belum tentu apa yang diyakininya adalah benar.

Behavior
Behavior adalah perilaku yang ditunjukan sebuah subjek terhadap lingkungannya. Percobaan Pavlov merupakan penjelasan dasar yang paling sering dipakai untuk mengambarkan bagaimana perilaku sebuah subjek dapat dibentuk melalui pengkondisian lingkungannya.

Beberapa aspek dari NLP memiliki kesamaan dengan terapis behavior, pengunaan anchoring adalah contoh bagaimana NLP mengunakan pengkondisian untuk mempercepat subjek masuk dalam perilaku yang diinginkan.

Afirmasi
Afirmasi dapat juga berarti menyatakan kembali. Dalam NLP, Afirmasi merupakan sebuah contoh dasar bagaimana sebuah kata-kata atau kalimat dapat digunakan untuk menciptakan, menguatkan dan mendukung terjadinya pemenuhan diri yang bermanfaat.

Afirmasi pada intinya melibatkan ketegasan verbal dan bagaimana dalam pelaksanaannya bertujuan untuk memperkuat keyakinan diri. Proses daripada afirmasi ini melibatkan pengulangan dari serangkaian pernyataan-pernyataan kepada diri sendiri ataupun orang lain.

NLP sendiri sedikitnya memiliki dua sisi pengertian. Pada sisi pertama adalah sebagai sebuah metafora untuk mendefenisikan manusia. Dan pada sisi lainnya adalah sebagai sebuah cabang ilmu pengetahuan yang berkembang terus.

Metafora sendiri sebetulnya merupakan sebuah afirmasi. Contohnya, caranya bertanding bagaikan singa yang terluka, tenaganya kuat bagaikan seekor gajah Afrika, dan lain sebagainya.

by. nlpintoaction.com

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: