Cara Kerja Pikiran & Perasaan

26 03 2011

“Apa sih NLP itu….?”

Sebuah pertanyaan standar yang pasti dilontarkan oleh rekan-rekan yang baru mendengar istilah Neuro-Linguistic Programming.  Sementara Anda tentu sudah membaca beberapa artikel saya tentang hal ini di website, berikut ini 3 jawaban sederhana yang saya jadikan pengantar pada “The 1st Indonesian NLP Conference”, 3 April 2010 lalu.

Pertama, saya teringat perkataan Abraham Maslow berikut ini:
If we want to answer the question, how tall can the human species grow, then obviously it is well to pick out the ones who are already tallest and study them.

If we want to know how fast a human being can run, then it is no use to average out the speed of the populations; it is far better to collect Olympic gold medal winners and see how well they can do.

If we want to know the possibilities for spiritual growth, value growth, or moral development in human beings, then I maintain that we can learn by studying the most moral, ethical, or sanity people.

Yes, NLP adalah rasa ingin tahu tentang mengapa seseorang bisa memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Dengan demikian, tanpa perlu melewati fase proses yang panjang, orang lain dapat mereplikasinya dengan lebih cepat.

Maka belajar NLP jelas membuat kita jadi orang yang selalu penasaran. Belajar NLP juga pasti membuat kita jauh dari rasa iri, dengki, ataupun rendah diri.

Kok bisa?

Jelas bisa. Sebab alih-alih kita iri dengan apa yang dimiliki orang lain, kita justru penasaran dengan bagaimana mereka bisa memiliki hal tersebut. Lihat tetangga kaya, jadi penasaran untuk menirunya. Lihat teman pintar, jadi penarasan untuk menirunya. Lihat orang lain selalu bahagia, jadi penasaran untuk menconteknya. Lihat teman pintar mendidik anak, jadi penasaran untuk belajar darinya.

Penasaran, penasaran, penasaran. Mau tahuuuuu aja gitu, bagaimana orang lain bisa sukses, bisa jadi ahli, lalu kita tiru deh.

Kedua, NLP adalah ilmu tentang memahami program dalam diri kita, yang ternyata cara kerjanya adalah neuro-linguistik. Persis seperti namanya.  Karena cara kerja pikiran-perasaan kita neuro-linguistik,  maka cermati dan tandai deh kata-kata atau bahasa-bahasa apa saja yang membuat kita marah, sedih, kesal, senang, semangat, bahagia, dan seterusnya.

Bagaimana cara kerja program marah dalam diri kita? Apa kata-kata pemicunya? Lalu kendalikan.

Bagaimana cara kerja program bahagia kita? Apa kata-kata pemicunya? Lalu munculkan saat kita inginkan.

Dengan demikian, remote pikiran dan perasaan benar-benar berada dalam kendali kita, dan bukan orang lain. Setiap pikiran dan perasaan pun merupakan keputusan kita sendiri.

Ketiga, NLP adalah soal pembiasaaan, alias mindset untuk senantiasa peka terhadap struktur, selain konten. Peserta tentu ingat contoh saya tentang lagu ”Sempurna” asli dari Andra and the Backbone, dan lagu ”Sempurna Jowo” ala entah siapa. Hehehe…

Lirik persis sama, seketika memicu makna—dan hasil—yang berbeda karena struktur menyanyikannya berbeda.

Pun peserta juga pasti ingat dengan 2 gambar Mahatma Gandhi yang saya tampilkan. Pertama berbingkai hitam, yang kedua berbingkai pink.

Maka kemudian kita jadi lebih mudah memahami mengapa sebuah pengalaman yang sama, bisa memiliki makna yang berbeda bagi 2 orang yang berbeda. Pun kita jadi mengerti, mengapa sesuatu yang dulu kita anggap sebagai tragedi, seketika sekarang bisa kita rasa sebagai komedi.

Yes, bukan urusan kejadiannya, melainkan kita sudah membingkai pengalaman tersebut dengan struktur yang berbeda.

Aha, bukankah ini menandakan bahwa kita punya kemampuan untuk menciptakan makna yang kita inginkan? Makna yang memberdayakan diri kita?  Makna yang menumbuhkan pribadi kita?

kejadian adalah takdir,  makna adalah keputusan.  Untungnya, kita berperilaku berdasarkan makna yang kita pilih.

Adalah Pak Wid—begitu beliau biasa disapa—yang dengan begitu proaktif menghubungi panitia menawarkan sebuah paper hasil penelitian sementara beliau tentang pola-pola bahasa dalam literatur Jawa Kuno. Meskipun beliau mengakui bahwa kajian ini baru dimulai, dan memiliki banyak keterbatasan dalam melakukannya, sesi yang berlangsung selama kurang lebih 1 jam di Indonesian NLP Conference 3 April lalu benar-benar menggelitik para peserta yang hadir di kelas beliau.

Menggelitik, karena rupanya banyak di antara peserta—terutama yang pernah belajar sisi linguistik dari NLP—baru menyadari berlimpahnya makna yang dapat dipelajari dari peninggalan budaya Indonesia.  Padahal, sesi tersebut baru membahas secuplik saja poin-poin yang didapat dari “Serat Kaca Wirangi” dan “Serat Madurasa”.

Serat Kaca Wirangi

Naskah yang diteliti bertuliskan tahun 1922 dan merupakan transliterasi dari naskah lama dalam huruf Jawa. Tanpa keterangan pengarang yang jelas, karya ini berisi kisah metafora yang sarat makna.

Kisah diawali dengan percakapan antara 2 tokoh utama, yakni burung Perkutut dan Dekukur pada suatu taman. Keduanya membahas berbagai tokoh seperti kupu-kupu, batu kali, batu mulia, berlian, batu biasa, arang, besi batangan, dan kaca benggala gedhe.

Keunikan serat ini jelas terletak pada gaya metaforik yang digunakan, sehingga menciptakan efek disosiasi yang menghindarkan ketersinggungan pembaca/penerima pesan.  Di dalamnya, para pembaca belajar beberapa hal berikut:

  • Baik atau buruk hanyalah ide, dan sangat tergantung pada perasaan dan makna.
  • Yang sedang disukai akan terlihat baik dan perhatian kita, sedangkan sisanya akan dihapus/diabaikan.
  • Orang simpati tidak kurang memuji, orang benci tidak kurang mencela.
  • Orang yang paling kita cintai di dunia ini adalah diri kita sendiri.

Kesimpulannya, persis seperti yang dikemukakan dalam presuposisi NLP, “People response to their internal maps, not the reality itself”. Dengan bahasa sederhana, manusia memiliki perwatakannya masing-masing.

Lebih dari itu, serat ini rupanya juga menjelaskan konsep berpikir-merasa yang begitu familiar di kalangan NLPers, atau yang sering disebut dengan NLP Communication Model/Human Model of the World. Jika dalam NLP kita belajar bahwa apa yang ada dalam representasi internal manusia merupakan hasil filterisasi dari kenyataan, maka serat ini mengajarkan bahwa rasa yang dimiliki manusia merupakan hasil pemahaman terhadap cahya/pepadhang yang dilihat melalui keluk/asap.

Sementara itu, serat ini juga menerangkan tentang konsep manusia sempurna yang sejalan dengan model Neurological Level yang dikembangkan oleh Robert Dilts. Perkembangan manusia berawal dari fase kupu-kupu yang masih berkutat dengan segala warna. Ini merupakan pengejawantahan dari level environment hingga capability. Berlanjut pada fase batu mulia, yang sudah mulai lepas dari perilaku, namun masih memiliki warna. Ini sejalan dengan level belief/value. Naik lagi menuju fase berlian yang tidak berkarakter/berwarna khusus dan nir nilai (tidak bernilai baik/buruk). Ini sejalan dengan level identity. Dan berujung pada fase kaca benggala, sesuatu yang bisa memuat segala rupa warna (map), cahaya (budi, etika), dan wujud. Ini selaras dengan level spirituality.

Serat Madurasa

Naskah yang diteliti juga merupakan naskah transliterasi dari naskah Jawa, bertahunkan 1935. Berbeda dengan Serat Kaca Wirangi, Serat Madurasa lebih banyak menjelaskan pola-pola olah batin, meskipun sama-sama menggunakan model metafora.

Ajaran inti serat ini adalah ’aja lali marang jejer’, intinya adalah jangan pernah melupakan tujuan dalam hidup. Sementara banyak manusia kosong tanpa sasaran yang jelas, tidak memahami tujuan hidup di dunia, sering beralih keinginan, sehingga mudah terombang-ambing oleh perubahan zaman. Manusia seperti ini membutuhkan outcome setting yang pasti, dan senantiasa waspada terhadap berbagai godaan dalam perjalanan.

Nah, untuk diskusi lebih lanjut, silakan kontak langsung penelitinya, Pak Widyarso, melalui email di widyarso_r@yahoo.co.uk.

Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: