ILMU ITU INVESTASI MASA DEPAN

5 12 2011

Assalamu ‘alaikum Wa Rohmatullahi wa barokatuh…….

Sahabat, anda tahu mengapa Biaya Pelatihan MPh itu saya tetapkan fleksibel. Yaitu dari 300rb hingga 750rb…?

Ada beberapa alasan yg mendasarinya :

1. DAPAT DINIKMATI OLEH SEMUA MASYARAKAT.
Agar ketrampilan penyembuhan ini dapat merata ke semua kalangan. Sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh semua kalangan masyarakat. Dan nilai uang sebesar 300rb itu sebenarnya hampir semua orang mampu untuk mengeluarkannya. Kalaupun saat ini dia belum punya, maka dia dapat menabung sebesar 10rb perhari maka satu bulan kemudian dia akan mampu mengikuti kelas pelatihan saya tersebut.

2. Ujian Kejujuran, Kedermawanan, & Tekad.
Bagi yg mampu mengeluarkan uang 750rb tetapi dia hanya mau mengeluarkan biaya yg terkecil dengan alasan tidak mampu. Maka sebenarnya dia telah membohongi dirinya sendiri. Dan Tindakannya itu merupakan sebuah perbuatan yg sangat disayangkan sekali. Itu sama saja Dia telah mendoakan dirinya sendiri tergolong manusia yg tidak mampu secara ekonomi. Karena dia telah memancarkan energi negatif ke alam semesta.

Siapa yang menghormati Ilmu, maka dia akan diangkat derajatnya oleh Sang Maha Pemberi Ilmu….

“Ilmu itu ada dua jenis : Ilmu yang ada dalam hati (disertakan amal), maka itulah yang bermanfaat; dan ilmu (yang hanya) berada di atas lidah (tanpa diamal), maka itulah ilmu (yang menjadi) hujjah Allah (untuk mendakwa kesalahan) terhadap anak Adam.” -[Riwayat Ibnu Syaibah dan Al Khatib]

SEKILAS THE LAW OF ATTRACTION
Ini adalah hukum alam, sama seperti hukum gravitasi yang sudah merupakan Sunnatullah. Pembahasan mengenai Hukum Alam ini perlu saya ulas di sini, agar sidang pembaca memahami pentingnya nilai Kejujuran yaitu selarasnya Hati, Fikiran, Sikap, & Tindakan bagi kesuksesan kita dalam kehidupan.

Tahukah anda bahwa setiap harinya fikiran kita memancarkan energi yang terbuat dari atom menjadi molekul dan molekul menjadi energi elektrik biokimiawi yang terpancar ke semesta dan kembali lagi ke kita melalui suatu peristiwa.

Misalkan kita mendapatkan uang dengan nominal besar atau kecil , pasti di masa lalu nya kita pernah berfikir untuk menginginkan uang dan kita sendiri yang menarik nya! semua kejadian yang terjadi dalam hidup kita, kita sendiri lah yang menarik nya dengan dunia batin kita atau pikiran kita.

Kita selalu berada dalam keadaan mencipta. sudah sejak dulu begitu. Di setiap saat, setiap hari. kita menciptakan realita kita. Bersamaan dengan setiap pikiran, perasaa, & tindakan. Kita menciptakan masa depan kita; baik kita sadari maupun tidak. kita tidak bisa beristirahat dan memutuskan untuk tidak mencipta karena penciptaan tidak pernah berhenti. Hukum Tarik-Menarik tidak pernah berhenti bekerja.

Jadi pemahaman akan cara kerja hukum ini adalah kunci dasar bagi keberhasilan Anda. Jika Anda ingin mengubah hidup Anda, dan memberdayakan diri untuk menciptakan masa depan yang menakjubkan, anda perlu mengerti peran anda dalam Hukum Tarik-Menarik.

Cara kerja Hukum Tarik-Menarik : Kemiripan menarik kemiripan.

  1. Jika anda merasa gembira, bersemangat, bergairah, bahagia, senang, penuh pengharapan, atau berkelimpahan, Berarti anda telah mengirimkan Energi Positif.
  2. Jika anda merasa bosan, cemas, tertekan, marah, curang, berbohong, dendam atau sedih. Berarti anda mengirim Energi Negative.

Perlu anda pahami bahwa; semesta akan merespon kedua getaran itu dengan antusias. Semesta tidak dapat memutuskan mana yang terbaik bagi anda. Semesta hanya mampu merespon energi apapun yang anda kirimkan padanya, dan semesta akan memberikan lebih banyak energi yang sama pada anda.

Apapun yang anda pikirkan dan rasakan pada suatu saat tertentu, pada dasarnya adalah permintaan anda akan hal-hal serupa kepada semesta. Karena getaran energi anda akan menarik kembali energy dengan frekuensi yang sama kepada anda. Anda perlu memastikan bahwa anda mengirim energi, pikiran dan perasaan yang selaras atau beresonansi dengan apa yang ingin anda ALAMI, LAKUKAN & TERJADI.

Tahukah anda bahwa ilmu bisa merubah segalanya…?
Ya..dengan ilmu kita bisa merubah keadaan. yang miskin bisa jadi kaya,yang bodoh bisa jadi pinter, yang hina bisa jadi mulia. sekali lagi ini semua bisa di rubah dengan ilmu, betapa pentingnya ilmu bagi kita sampai-sampai nabi muhammad SAW. memerintahkan kepada umatnya supaya menuntut ilmu sampai di negeri china (tuntutlah ilmu walau sampai negeri China)

Memang kadang kita tidak menyadari bahwa menuntut /mencari ilmu merupakan investasi pada diri sendiri yang tidak ternilai harganya, karena kebanyakan orang mencari ilmu justru jadi beban berat yang harus dipikul. Apalagi bagi kaum pelajar yang masih giat-giatnya menuntut ilmu, mereka akan mereka akan tersentak dan menyadari bahwa betapa pentingnya ilmu setelah mereka terjun di dunia kerja, dan telah mengarungi bahtera rumah tangga,kenapa saya dulu males tuk sekolah/cari ilmu? itulah yang senantiasa keluar dari mulut seorang pemalas dan hanya bisa menyesal

Antara mencari ilmu, menabung dan investasi merupakan kesamaan, yang cuma akan bisa dinikmati kelak di kemudian hari bagi orang yang sabar menanti waktu, berjuang tanpa henti dan tau betul akan pentingnya masa depan. tanpa kesabaran tak akan ada tabungan yang bisa diambil atau dinikmati di masa depan. tanpa perjuangan dan kerja keras tak akan dapat ilmu yang berguna untuk masa depan, dan tanpa kesadaran yang tinggi akan sebuah investasi tak akan ada masa depan. maka marilah kita menuntut ilmu sampai kapan pun dengan penuh semangat pantang menyerah dan tetap optimis.

Apakah hakikat ilmu yang bermanfaat itu?
Secara syariat, suatu ilmu disebut bermanfaat apabila mengandung mashlahat – memiliki nilai-nilai kebaikan bagi sesama manusia ataupun alam. Akan tetapi, manfaat tersebut menjadi kecil artinya bila ternyata tidak membuat pemiliknya semakin merasakan kedekatan kepada Dzat Maha Pemberi Ilmu, Allah Azza wa Jalla.

Dengan ilmunya ia mungkin meningkat derajat kemuliaannya di mata manusia, tetapi belum tentu meningkat pula di hadapan-Nya. Oleh karena itu, dalam kacamata ma’rifat, gambaran ilmu yang bermanfaat itu sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh seorang ahli hikmah. “Ilmu yang berguna,” ungkapnya, “ialah yang meluas di dalam dada sinar cahayanya dan membuka penutup hati.” seakan memperjelas ungkapan ahli hikmah tersebut,

Imam Malik bin Anas r.a. berkata, “Yang bernama ilmu itu bukanlah kepandaian atau banyak meriwayatkan (sesuatu), melainkan hanyalah nuur yang diturunkan Allah ke dalam hati manusia. Adapun bergunanya ilmu itu adalah untuk mendekatkan manusia kepada Allah dan menjauhkannya dari kesombongan diri.”

Ilmu itu hakikatnya adalah kalimat-kalimat Allah Azza wa Jalla. Terhadap ilmunya sungguh tidak akan pernah ada satu pun makhluk di jagat raya ini yang bisa mengukur Kemahaluasan-Nya. sesuai dengan firman-Nya,

“Katakanlah : Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menuliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (dituliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (QS. Al Kahfi [18] : 109).

Adapun ilmu yang dititipkan kepada manusia mungkin tidak lebih dari setitik air di tengah samudera luas. Kendatipun demikian, barangsiapa yang dikaruniai ilmu oleh Allah, yang dengan ilmu tersebut semakin bertambah dekat dan kian takutlah ia kepada-Nya, niscaya “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah [58] : 11).

Sungguh janji Allah itu tidak akan pernah meleset sedikit pun! Akan tetapi, walaupun hanya “setetes” ilmu Allah yang dititipkan kepada mnusia, namun sangat banyak ragamnya. ilmu itu baik untuk kita kaji sepanjang membuat kita semakin dekat kepada Allah. Inilah ilmu yang paling berkah yang harus kita cari. sepanjang kita menuntut ilmu itu jelas (benar) niat maupun caranya, niscaya kita akan mendapatkan manfaat darinya.

Imam Syafii ketika masih menuntut ilmu, pernah mengeluh kepada gurunya. “Wahai, Guru. Mengapa ilmu yang sedang kukaji ini susah sekali memahaminya dan bahkan cepat lupa?”
Sang guru menjawab, “Ilmu itu ibarat cahaya. Ia hanya dapat menerangi gelas yang bening dan bersih.” Artinya, ilmu itu tidak akan menerangi hati yang keruh dan banyak maksiatnya.

Karenanya, jangan heran kalau kita dapati ada orang yang rajin mendatangi majelis-majelis ta’lim dan pengajian, tetapi akhlak dan perilakunya tetap buruk. Mengapa demikian? itu dikarenakan hatinya tidak dapat terterangi oleh ilmu. Laksana air kopi yang kental dalam gelas yang kotor. Kendati diterangi dengan cahaya sekuat apapun, sinarnya tidak akan bisa menembus dan menerangi isi gelas.

Begitulah kalau kita sudah tamak dan rakus kepada dunia serta gemar maksiat, maka sang ilmu tidak akan pernah menerangi hati. Padahal kalau hati kita bersih, ia ibarat gelas yang bersih di isi dengan air yang bening. Setitik cahaya pun akan mampu menerangi seisi gelas.

Walhasil, bila kita menginginkan ilmu yang bisa menjadi ladang amal shalih, maka usahakanlah ketika menimbanya, hati kita selalu dalam keadaan bersih. hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari ketamakan terhadap urusan dunia dan tidak pernah digunakan untuk menzhalimi sesama. Semakin hati bersih, kita akan semakin dipekakan oleh Allah untuk bisa mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Darimanapun ilmu itu datangnya. Disamping itu, kita pun akan diberi kesanggupan untuk menolak segala sesuatu yang akan membawa mudharat.

Sebaik-baik ilmu adalah yang bisa membuat hati kita bercahaya. Karenanya, kita wajib menuntut ilmu sekuat-kuatnya yang membuat hati kita menjadi bersih, sehingga ilmu-ilmu yang lain (yang telah ada dalam diri kita) menjadi bermanfaat. Bila mendapat air yang kita timba dari sumur tampak keruh, kita akan mencari tawas (kaporit) untuk menjernihkannya. Demikian pun dalam mencari ilmu. Kita harus mencari ilmu yang bisa menjadi “tawas”-nya supaya kalau hati sudah bening, ilmu-ilmu lain yang kita kaji bisa diserap seraya membawa manfaat.

Mengapa demikian?
Sebab dalam mengkaji ilmu apapun kalau kita sebagai penampungnya dalam keadaan kotor dan keruh, maka tidak bisa tidak ilmu yang didapatkan hanya akan menjadi alat pemuas nafsu belaka. Sibuk mengkaji ilmu fikih, hanya akan membuat kita ingin menang sendiri, gemar menyalahkan pendapat orang lain, sekaligus aniaya dan suka menyakiti hati sesama.

Demikian juga bila mendalami ilmu ma’rifat. Sekiranya dalam keadan hati busuk, jangan heran kalau hanya membuat diri kita takabur, merasa diri paling shalih, dan menganggap orang lain sesat. Oleh karena itu, tampaknya menjadi fardhu ain hukumnya untuk mengkaji ilmu kesucian hati dalam rangka ma’rifat, mengenal Allah. Datangilah majelis pengajian yang di dalamnya kita dibimbing untuk riyadhah, berlatih mengenal dan berdekat-dekat dengan Allah Azza wa Jalla. Kita selalu dibimbing untuk banyak berdzikir, mengingat Allah dan mengenal kebesaran-Nya, sehingga sadar betapa teramat kecilnya kita ini di hadapan-Nya.

Kita lahir ke dunia tidak membawa apa-apa dan bila datang saat ajal pun pastilah tidak membawa apa-apa. Mengapa harus ujub, riya, takabur, dan sum’ah. Merasa diri besar, sedangkan yang lain kecil. Merasa diri lebih pintar sedangkan yang lain bodoh. Itu semua hanya karena sepersekian dari setetes ilmu yang kita miliki? Padahal, bukankah ilmu yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan Allah juga, yang sama sekali tidak sulit bagi-Nya untuk mengambilnya kembali dari kita? Subhanallaah! Mudah-mudahan kita dimudahkan oleh-Nya untuk mendapatkan ilmu yang bisa menjadi penerang dalam kegelapan dan menjadi jalan untuk dapat lebih bertaqarub kepada-Nya.

SALAM PERUBAHAN & SALAM SUKSES….


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: